Eksklusivitas Gerakan Mahasiswa

Hari gini masih ada organisasi mahasiswa yang eksklusif? Eit, jangan salah. Buka mata lebar-lebar. Di era keterbukaan dan keragaman Indonesia macam sekarang, sensitivisme keakuan organisasi di level manapun masih merajai. Sebut saja partai politik. Lembaga ini selayaknya menjadi perwakilan seluruh aspirasi masyarakat Indonesia yang beragam dari Sabang sampai Merauke di tingkat parlemen. Maka tak heran jika negeri kita tercinta menganut sistem multipartai.

Indonesia yang terdiri dari sekian ratus suku, bahasa, dan kebudayaan tidak bisa dipaksakan untuk mengarus pada dua poros, buruh dan republik, seperti halnya Amerika yang berkultur industri. Kebhinekaan Indonesia mengarahkan negeri ini untuk tidak hanya dapat diwakili afiliasinya oleh dua partai karena memang unsur perbedaan tujuan dan cara menjadi ragam yang wajar untuk mewujud dalam banyak partai. Demikianlah realitas demokrasi yang mesti kita terima dan syukuri sebagai kesempatan berkembang. Freedom of Association yang demikian, kata Jimly Asshidiqie, bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka yang memahami bagaimana pemanfaatan keragaman tersebut.

Yang mengherankan yakni apabila satu atau masing-masing partai politik itu mengklaim bahwa ialah yang terbaik dan tidak membutuhkan partai lain dalam mengisi kepemimpinan negeri ini. Nonsense. Kemenangan salah satu partai politik dalam kancah nasional tidak mungkin berujung pada kekuasaan tunggal partai tersebut dalam memimpin. Dibutuhkan grup koalisi yang menguatkan sang pemenang dan grup oposisi sebagai penyeimbang dan pengontrol.

Hal ini berlaku pula pada gerakan mahasiswa. Mahasiswa yang telah mengelompokkan diri dalam satu afiliasi visi yang sama akan bergerak sinergis dengan apa yang menjadi visi dan ideologinya dalam sebuah wadah organisasi. Tentu saja tidak semua ormawa (organisasi mahasiswa) memiliki corak gerak yang sama. Sesungguhnya, kekayaan gerak itu mampu menjadi pelengkap yang kian menyempurnakan gerak perubahan dan perbaikan masyarakat, jika itu disadari.

Namun, tak jarang rupanya, pergerakan mahasiswa yang menginduk ‘ayah semangnya’ di parlemen (parpol). Ia seolah tak ingin memiliki pesaing dalam memimpin negara kecilnya di kampus ataupun luar kampus. Sinisme semacam ini rawan menimbulkan aksi saling menjatuhkan yang kurang sehat dan malah membuat lalai dari tujuan awal meretas perubahan masyarakat. Tidak ada kerja sama. Tidak boleh bersentuhan ranah. Branding nama organisasi pibadi-lah yang paling utama, dll.

Eksklusivitas gerakan mahasiswa demikian sama sekali tidak menunjukkan kedewasaan organisasi. Realitas masyarakat masa kini mewajah dengan segala kompleksitas masalah yang menuntut tidak hanya satu tipe corak gerakan mahasiswa saja. Itu patut disadari oleh para pemuda yang menisbatkan diri dalam dunia pergerakan. Konsekuensinya, ada dua hal. Pertama, setiap gerakan mahasiswa sedapat mungkin mampu mengkover kebutuhan masyarakat secara general dan utuh. Tetapi perlu diingat, ini bukan suatu nilai mutlak. Harus ada memang organisasi mahasiswa yang mengkarakterkan diri sebagai gerakan yang general seperti itu. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, KAMMI, contohnya. Tidak hanya bergerak di ranah sosial-politik, KAMMI mewujudkan dirinya sebagai organisasi yang ingin mengusung Islam pada tataran bangsa dan negara. Intinya, landasan gerakannya pun terpondasi oleh Islam, pun demikian segala pendekatan dan metode yang diejawantahkan organisasi ini.  Selain itu, KAMMI juga mewadahi munculnya aksi-aksi di bidang skill khusus dalam gerakannya. Hal-hal tersebut mengarahkan subjektivitas penulis pada pendapat bahwa KAMMI layak menjadi contoh organisasi yang ranah gerakannya general dan luas.

Di sisi lain, fakta mengatakan bahwa tidak semua organisasi mahasiswa bergerak dalam payung yang lebar. Sangat banyak ormawa dalam maupun luar kampus yang memiliki spesialisasi gerak, dalam bidang jurnalistik, lingkungan, dll, misalnya. Nah, fakta ini sepatutnya menyeret kita pada pemahaman akan konsekuensi kedua yakni seruan untuk ormawa agar mampu bergerak juga dalam orbit keselarasan dengan ormawa lain. Poinnya tidak jauh dari hal yang telah sebelumnya diungkapkan yakni untuk memperkaya varian gerakan kita di dunia sosialita masyarakat.

Ekslusivitas gerakan, dalam sisi tertentu, masih harus dijaga oleh setiap ormawa. Namun, pembahasaannya tidak serupa dengan eksklusif dalam artian antipati terhadap gerakan lain. Tepatnya, ormawa sebisa mungkin menjaga karakter dasar gerakannya. Kekhasan gerak organisasi tetap menjadi amanah bagi tiap-tiap penggeraknya untuk dilestarikan. Sedangkan inklusivitas dalam arti keterbukaan juga tidak wajar jika dimaknai meleburkan nilai dan pondasi organisasi demi suatu kepentingan atau keinginan untuk diterima yang mengakibatkan rusaknya karakter dan citra organisasi.

Masyarakat secara kasat pasti sudah terlampau jenuh dengan gontok-gontokkan di parlemen sana yang pada ujungnya melupakan mereka yang juga bagian dari unsur negara. Gerakan mahasiswa sepatutnya memberikan rona segar dan harapan bahwa kita berbeda. Tujuan sama untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, salah satunya, kita realisasikan dengan cara yang berbeda dan dewasa. Bukan dengan menunjukkan adigdaya namun dengan semangat perbaikan dan kebersamaan. Ketakutan akan kekuatan lain di luar organisasi kita sehingga muncul upaya menghalangi gerakan lain untuk tumbuh bukan mental ormawa pejuang. Perlu dicatat, statemen ini tidak berlaku bagi gerakan yang memang nyata mengusung proyek perusakan seperti liberalisasi, sekularisasi, hedonisme, dan kawan-kawannya. Sebaliknya, keyakinan akan nilai yang terinternalisasi pada diri gerakan kitalah yang semestinya terus dikuatkan dengan tetap memberi kesempatan ormawa lain berkembang dengan gerak perbaikan khasnya.

Organisasi mahasiswa yang dewasa adalah organisasi yang melejit dengan kiprahnya tapi juga mampu menstimulus gerakan lain untuk berkembang. Dari KAMMI untuk Indonesia dan dunia.


*Sofistika Carevy Ediwindra
Sekretaris Umum KAMMI MADANI

http://kammimadani.wordpress.com/2012/11/05/eksklusivitas-gerakan-mahasiswa/

Akhwat Kontemporer

Akhwat memegang peranan penting dalam laju roda pergerakan organisasi mahasiswa terbesar di negeri ini, KAMMI. Sayangnya, dalam ranah nasional, wilayah, daerah, maupun komisariat, kiprah akhwat KAMMI terkadang masih kalah eksis terdengar gaungnya. Entah karena keberpihakan media pada gender ikhwan atau memang dobrakan gerakan kaum hawa ini masih kurang.

Ini bukan soal perseteruan tak sehat yang membawa pada keakuan gender yang tak berujung. Gerakan kemahasiswaan di era terbuka ini membutuhkan sinergitas baik ikhwan pun akhwat untuk mengisi relung kosong negeri ini dengan kontribusi khas perbaikan. KAMMI yang merupakan gerakan berbasis kader, telah mengantongi manhaj yang tersusun integral dengan muara muslim negarawan (pemimpin) bagi seluruh kadernya.

Negeri khatulistiwa ini masih didominasi kuat oleh kuantitas wanita sebagai penduduknya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi gerakan akhwat KAMMI. Masalah yang muncul, tak jauh dan kebanyakan, bersentuhan dengan ranah wanita. Mulai dari masalah kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, KDRT, eksploitasi wanita, kesehatan, kekurangterlibatan wanita di ranah pengambil kebijakan nasional hingga internasional menjadi PR bagi akhwat KAMMI untuk digarap. Bisa dibilang, 100% tak ada satupun bidang kehidupan yang lepas dari kebutuhan kiprah akhwat di dalamnya.

Ya, ternyata di pundak kita, akhwat KAMMI, tersemat ragam amanah yang tak hanya butuh ditonton saja. Lalu apa? Apa yang bisa dilakukan oleh muslimah dengan sandangan muslim negarawan ini? Merujuk pada Ijtihad Membangun Gerakan buah gagasan Amin Sudarsono (2010) , terdapat beberapa hal konkret yang menjadi bekal sekaligus gerakan muslimah KAMMI. Pertama, menjaga sustainability pengkaderan. Pengkaderan nihil tanpa adanya citra baik yang diwajahkan akhwat KAMMI. Hal ini menuntut masuknya akhwat KAMMI dalam bidang strategis dan bergengsi baik di kampus, daerah, maupun nasional.

Kedua, pengembangan dan penyebaran pemikiran. Kuatnya ideologi keKAMMIan merupakan senjata dari idealisme yang selama ini KAMMI bangun. Terpaut di dalamnya perlunya kesiapan ruhiyah, ilmu, dan fisik kuat dari akhwat KAMMI. Tanpanya, ideologi yang diinternalisasi melalui pembinaan kader akan loyo dan tidak mantap merasuk ke jiwa kader akhwat KAMMI.

Selanjutnya, menjadi bidang akhwat KAMMI yakni pada aspek advokasi perempuan. Objek dakwah akhwat bukan melulu mereka yang juga telah berhijab. Maka tak selayaknya akhwat KAMMI hanya bergaul dengan sesama jenisnya saja (eksklusif). Sudah saatnya para akhwat membongkar kebiasaan lama dan beranjak pada gerakan memperlebar sayap gerak. Advokasi membutuhkan analisis dan pemahaman akan medan yang menjadi ladang garapan. Analisis merujuk pada masalah yang mengemuka dengan mengorelasikan pada sumber daya yang mampu menjadi katalisator penyelesaian masalah. Fungsi advokasi inilah yang semestinya dimainkan oleh akhwat KAMMI yang kaya akan ideologi.

Keempat, pendorong perubahan. Perubahan, tidak dipungkiri akan terjadi dalam setiap lapisan masyarakat. Bukan tak mungkin pula, perubahan wajah wanita Indonesia yang masih lekat padanya hawa marjinalisasi diawali oleh akhwat KAMMI yang terus bergerak dalam upaya dinamisasi perubahan.

Kelima, unsur pemberdayaan perempuan. Inilah unsur pembeda yang menjadi kesempatan mewujudkan aksi yang dirancang akhwat KAMMI. Skill di sisi ini menjadi modal utama. Skill domestik maupun publik adalah dua hal wajib untuk dikuasai akhwat. Akhwat yang mampu merangsek ke setiap lini perempuan dan masyarakat secara umum dengan bekal yang kokoh mampu menjadi saka bagi keutuhan pergerakan.

Menjadi akhwat KAMMI adalah sebuah anugerah. Dalam keanggunan terbalut ketangguhan. Menjadi akhwat KAMMI berolah padanya pelatihan menjadi menejer di segala bidang. Tak hanya politik, namun juga domestik. Tak hanya internasional-nasional, tapi juga keluarga dan masyarakat di hadapan. Kesatuan akhwat yang mewujud dalam KAMMI tak hanya tanggung jawab Pusat namun juga komisariat sebagai penyokong utama gerak KAMMI. Maka memasifkan hubungan emosional dan kultural antarkomsat, daerah-komsat, wilayah-daerah, hingga pusat-daerah menjadi ihwal yang tak terelakkan. Jangan harap loyalitas akhwat KAMMI atau kader KAMMI secara umum muncul jikalau tidak terbangunnya relasi antarinternal KAMMI tersebut. Tak pelak, kaderisasi yang di dalamnya memuat penguatan kader menjadi gerakan abadi KAMMI kini dan nanti.


*Sofistika Carevy Ediwindra
Sekretaris Umum KAMMI MADANI 2012/2013

Sumber http://kammimadani.wordpress.com/2012/11/03/akhwat-kontemporer/

Save Blok Mahakam, Save Indonesia”


Blok Mahakam merupakan salah satu ladang gas terbesar di Indonesia dengan rata-rata produksi sekitar 2.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Cadangan blok Mahakam sekitar 27 triliun cubic feet (tcf). Sejak 1970 hingga 2011, sekitar 50% (13,5 tcf) cadangan telah dieksploitasi, dengan pendapatan kotor sekitar US$ 100 miliar. Cadangan yang tersisa saat ini sekitar 12,5 tcf, dengan harga gas yang terus naik, blok Mahakam berpotensi pendapatan kotor US$ 160 miliar atau sekitar Rp 1500 triliun!

Tapi ironisnya, Kontrak Kerja Sama (KKS) Blok Mahakam yang ditandatangani pemerintah dengan Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation (Jepang) pada 31 Maret 1967, beberapa minggu setelah Soeharto dilantik menjadi Presiden RI ke-2. Kontrak berlaku selama 30 tahun hingga 31 Maret 1997. Namun beberapa bulan sebelum Soeharto lengser, kontrak Mahakam diperpanjang selama 20 tahun, sehingga kontrak akan berakhir pada 31 Maret 2017.

Karena besarnya cadangan tersisa, pihak asing telah kembali mengajukan perpanjangan kontrak. Di samping permintaan dari manajemen Total, PM Prancis Francois Fillon telah meminta perpanjangan kontrak Mahakam pada kesempatan kunjungan ke Jakarta Juli 2011. Disamping itu Menteri Perda­ga­ngan Luar Negeri Pran­cis Ni­cole Bricq kembali meminta perpanjangan kontrak saat kunjungan Jero Wacik di Paris, 23 Juli 2012. Belum puas melakukan negoisasi, untuk mengamankan kepentingannya, komprador asing kembali  melakukan pertemuan antara CEO Inpex Toshiaki Kitamura dengan Wakil Presiden Boediono dan Presiden SBY pada 14 September 2012

Kondisi ini jelas memprihatinkan dan jelas melanggar UU Migas No.22/2001. Dalam konstitusi ditegaskan jika kontrak migas berakhir, pengelolaannya dapat diserahkan kepada BUMN. Dalam hal ini, Pertamina sudah menyatakan keinginan dan kesanggupan mengelola blok Mahakam sejak 2008 hingga sekarang. Namun banyak pihak yang rupanya menginginkan bangsa ini dikuasai asing dan berusaha menggagalkan rencana Pertamina tersebut. .

Kita layak khawatir proses blok Cepu yang diserahkan pada Exxon (2006) mungkin terulang pada Blok Mahakam. Jika proses advokasi terhadap Blok Mahakam tidak dijalankan, kita layak mengibarkan bendera setengah tiang dimana BUMN Indonesia akan kembali menjadi pecundang, rakyat Indonesia juga akan kembali dirugikan!!!

Maka, sebagai salah satu elemen bangsa, KAMMI berusaha bergerak dan mengadvokasi kepentingan energi nasional dan tidak akan pernah membiarkan kepentingan asing terus mendominasi kebijakan dan penguasaan energi nasional. Blok Mahakam adalah milik rakyat Indonesia dan harus dikelola pemerintah Indonesia.
Merespons kondisi tersebut, Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia menyatakan sikap :
  1. Menuntut tegas kepada pemerintahan SBY-Boediono untuk melakukan nasionalisasi seluruh asset tambang nasional
  2. Meminta kepada pemerintahan SBY-Boediono untuk memutus kontrak Blok Mahakam paling lambat 31 Desember 2012
  3. Mendukung pemerintah melalui PT Pertamina mengelola Blok Mahakam sejak berakhirnya kontrak dari Total  EP pada 31 Maret 2017

Jakarta, 16 Oktober 2012

Muhammad Ilyas Lc
Ketua Umum PP KAMMI
Kontak Person:
Sugeng 081385754066
Dindin 0813 8386 6267

Sumber : http://kammi.or.id/pernyataan-sikap-kammi-save-blok-mahakam-save-indonesia/

Syariat Islam di Aceh Tidak Ada Hubungan dengan HAM

BANDA ACEH – Puluhan anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh menggelar aksi di Bundaran Simpang Lima Kota Banda Aceh, sekitar pukul 10.30 WIB, Selasa, 16 Oktober 2012.

Pantauan atjehpost.com di lokasi, para peserta aksi dilengkapi alat peraga berupa sepanduk dan juga kertas karton bertulisan “SAVE SYARIAT Islam”. Massa juga bergantian melakukan aksi sambil berteriak selamatkan syariat Islam di Aceh.

Koordinator Aksi sekaligus pimpinan KAMMI Aceh, Fasil Qasim mengatakan, aksi dilakukan serentak di beberapa daerah di kabupaten kota di Aceh. Semua aksi tersebut mengangkat tema yang sama.

Kata Faisal Qasim, tempat-tempat atau daerah yang menggelar aksi adalah Langsa, Meulaboh, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.

Dia mengatakan, penegakan Syariat Islam di Aceh tidak ada hubungannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Kita harapkan pemerintah dan masyarakat serta elemen-elemen lain serius dan berkomitmen dalam menjalankan syariat Islam di Aceh,” ujar dia.[atjeh post)

KAMMI : Rakyat bisa usulkan pembubaran BNPT

JAKARTA (Arrahmah.com) - Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) M Ilyas menilai rencana Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan sertifikasi ulama merupakan usulan yang aneh.

“Usulan aneh yang tidak lucu,” kata Ilyas, Selasa (11/9) seperti dikutip itoday.

Menurut Ilyas, rencana itu bisa memunculkan reaksi dari rakyat dengan mengusulkan pembubaran BNPT. “Nanti rakyat bisa usulkan pembubaran BNPT,” paparnya.

Ia mengusulkan, daripada pemerintah mengurusi kasus teroris yang tidak jelas dan merupakan agenda negara asing, lebih baik membuka kembali kasus korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah.

“Saya minta pemerintah tegas usut Century, Hambalang, bahkan kasus BLBI harus dibongkar kembali, isu terorisme ini agenda negara lain, kita jangan latah ngekor agenda negara lain, sementara puluhan juta rakyat indonesia masih miskin,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, BNPT merencakan melakukan uji sertifikasi bagi da’i, ustad dan ulama sebagai upaya untuk mencegah ajaran Islam radikal.

“Dengan sertifikasi, maka pemerintah negara tersebut dapat mengukur sejauh mana peran ulama dalam menumbuhkan gerakan radikal sehingga dapat diantisipasi,” kata Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris dalam diskusi Sindoradiao, Polemik, bertajuk “Teror Tak Kunjung Usai” di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9). (bilal/arrahmah.com)

KAMMI : JIL Lebih Bahaya Dari Teroris

itoday - Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) M Ilyas menanggapi tuduhan aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Guntur Romli bahwa gerakan ‘Indonesia Tanpa JIL’ sebagai teroris.

Menurut Ilyas, justru yang paling berbahaya dan merusak bangsa Indonesia itu ide-ide yang disebarkan JIL bahkan melebihi teroris.

“JIL lebih kejam dari teroris, sebab, JIL akan merusak pemikiran generasi muda bangsa ini,” kata alumni Fakultas Syariah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) kepada itoday, Rabu (12/9).

Kata Ilyas, JIL yang menyebarkan ide-ide kebebasan ala barat memunculkan perilaku seks bebas dan sangat bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia. “sekarag seks bebas merajalela, itu semua tidak terlepas dari peran JIL yang mengekor terhadap budaya barat yang salah kaprah,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan, JIL itu proyek sekulerisme yang berbahaya bagi masa depan bangsa dan NKRI.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, aktivis JIL Muhammad Guntur Romli kembali membuat blunder. Suami aktivis liberal Nong Darol Mahmada ini menuding gerakan Indonesia Tanpa JIL sebagai teroris.

Melalui akun Twitter ‏@GunturRomli, Guntur Romli menulis: ”Di twitter, para teroris itu menulis bio nya: Indonesia Tanpa JIL, Indonesia Tanpa Liberal :D . Apakah twit gini: yg nulis bio di twitter: Indonesia Tanpa JIL, Indonesia Tanpa Liberal adlh teroris? Tp klau mau ngaku sndiri gpp sih haha”.

Simber : http://kammi.or.id/kammi-jil-lebih-bahaya-dari-terorisi/

ROHIS = Sarang Teroris…?


Masih lekat dalam ingatan saya kala itu. Adzan Asar berkumandang dari Masjid At-Taqwa SMA N 1 Comal. Bukan suara “berat” ala bapak-bapak apalagi suara lemah kakek-kakek yang sudah sadar ajalnya mendekat. Suara itu begitu tegas. Khas anak muda yang dalam jiwanya masih bergelora semangat berkarya. Serempak seluruh siswa baru berseragam Pramuka SMP itu digiring ke masjid. Saya pun termasuk dalam rombongan calon penegak itu. Keadaan ini tak hanya terjadi sesekali saja, penggiringan massal “jama’ah” Pramuka untuk sholat fardhu berjama’ah adalah tradisi. Itu yang saya dengar dan alami sendiri. Tak cukup sampai di situ. Ambalan WR Supratman dan Fatmawati (nama satuan Pramuka Penegak di SMA saya) memiliki kebiasaan mengadakan kuliah Subuh di tiap event perkemahan yang kami selenggarakan. Meski belum sempurna, kontak langsung lawan jenis (bersalaman) juga jarang saya jumpai kala itu. Lho kok bisa? Usut punya usut, ROHIS telah bermain di sana. Asal tahu saja, di tangan merekalah Pramuka kami berjaya meski baru di level provinsi. Kamilah peserta tergiat Raimuna Daerah Jawa Tengah. Saya lupa tahun persis penyelenggaraan event bergengsi itu.

Juga di SMA N 1 Comal, saya menjumpai sosok inspiratif lain. Kakak kelas persis di atas saya, bisa mengawinkan pencapaian akademik dan organisasi dengan memuaskan. Mas Bayu, begitu saya biasa memanggilnya, adalah ketua OSIS periode 2006-2007. Dialah kontingen Olimpiade Biologi, langganan peringkat satu paralel, dan seabrek prestasi lain. Dan tahukah kamu? Salah satu aktifitas rutinnya ialah ikut bergabung dalam kajian rutin ISC (Islamic Study Club), ROHIS SMA kami tercinta. Sepanjang tak ada jadwal bentrok dengan tugasnya sebagai ketua OSIS, tiap Sabtu siang selalu saya jumpai dia bergabung dengan jama’ah setia ISC.

Lagi-lagi di SMA N 1 Comal, kakak kelas dua tahun di atas saya, tak kalah hebatnya. Pirman itulah namanya. Walau diamanahi sebagai ketua OSIS di periode 2005-2006, aktifitas halaqah dan kajian rutin ROHIS ternyata masih dijabanin secara istiqomah. Eiitts…tak berhenti di situ. Dia pernah pula menjadi finalis Siswa Teladan se-Jawa Tengah, lho! Walhasil, dia menjadi salah satu kakak kelas yang paling sering saya dekati sampai dia lulus. Berharap ketularan kepandaian dan “keberutungan” yang sepertinya akrab dengan kesehariannya.

Yang satu ini ialah seorang akhwat satu angkatan dengan saya. Untuk amannya, saya tidak akan menyebut nama aslinya. Sebut saja Bunga. Ups…bukan, bukan! Anggap saja dia memiliki inisial “S”.  Tak mau kalah dengan pendahulunya, dia yang memegang salah satu amanah strategis di ROHIS ternyata juga amat prestatif. Berdasarkan sumber terpercaya, dialah satu-satunya siswa di kelasnya yang tidak pernah ikut remedial di satu mata pelajaran pun. Nilainya selalu di atas rata-rata, bahkan sering masuk kategori “memuaskan”. Tak heran kalau dia kemudian pernah mencicipi atmosfer persaingan Olimpiade Fisika se-Jawa Tengah. Peran keorganisasiannya pun tak hanya di ROHIS, ada satu lagi ekskul plus satu komunitas menulis di luar kampus yang dia geluti. Dan sepanjang yang saya dan teman-teman tahu, tak ada efek negatif yang signifikan terhadap studinya. Jadwal halaqahnya juga (masih menurut sumber terpercaya) terjaga.

Dan yang terbaru, saya mendengar kabar valid dari teman satu angkatan Mas Pirman. Saya biasa memanggil dia “Mbak N”. N adalah inisial nama panggilannya. Salah satu kawan kental Mbak N, yaitu Mbak R, belum lama ini baru kembali dari Amerika Serikat. Mbak R mendapat kesempatan menjadi salah satu perwakilan dari Jawa Tengah dalam sebuah program pertukaran pelajar di sana. Pernah saya melihatnya sekilas bersama para akhwat lain di sebuah pantai sedang bercengkerama. Setidaknya, saya berhusnuzhon, dia sepertinya berhasil memfilter hal negatif yang mungkin dia jumpai di kultur negeri Paman Sam. Beberapa kali saya “memergoki” status, komentar, dan aktifitas lain di dunia maya juga masih menunjukkan keistiqomahannya. Dan tahukah kamu? Dialah salah satu alumni ROHIS kami yang paling antusias ketika mengetahui ROHIS di SMA tercinta masih eksis. Dia pula yang vokal menyuarakan kata setuju saat saya dan beberapa teman menginisiasi silaturahim alumni ROHIS pasca Idul Fitri kemarin.

Itulah beberapa profil nyata mereka yang saya kenal sebagai didikan ROHIS. Dalam penilaian saya, minimal ada tiga keywords yang cocok disematkan kepada mereka: agamis, prestatif, dan kontributif. Apa yang mereka dapatkan di ROHIS dan aktifitas lainnya seakan menjadi bahan bakar kelas wahid. Dengan bahan bakar itu mereka mampu berubah menjadi sosok-sosok luar biasa. Malu memperlihatkan identitas sebagai Muslim seperti tak pernah ada dalam kamus mereka. Kegigihan menggali ilmu, mengamalkan, dan mendakwahkan dengan cara mereka masing-masing juga patut diacungi jempol. Prestasi selaku akademisi dan aktifis organisasi bak makanan sehari-hari, sudah biasa dijumpai. Dan terakhir, kontribusi dan kebermanfaatan mereka bagi orang di sekelilingnya tak bisa diragukan. Ketiadaannya menjadi satu hal yang amat dibenci orang sekitarnya. Sebaliknya, keberadaanya dalam membersamai rekan-rekannya adalah spirit tersendiri yang dampaknya bisa menggairahkan dalam tiap menempuh aktifitas.

Lalu, mungkinkah ROHIS menjadi sarang TERORIS? Pasti mereka yang memiliki akal jernih yang bebas polusi akan dengan mudah menjawab pertanyaan retoris ini. Dan ini baru secuil potongan kecil puzzle kisah nyata dan pribadi alumni ROHIS di negeri ini.

Sumber  http://kammimadani.wordpress.com/2012/09/15/rohis-sarang-teroris/

Tidak Parsial Tapi Syamil “Islam dan Dakwah”

Kita ketahui, Islam merupakan agama yang tidak mungkin dilepaskan dari masalah-masalah kontemporer atau seiring perkembangan zaman. Di bidang kehidupan manapun Islam senantiasa mengambil perannya. Karena Islam bukan semata-mata agama dengan perangkat ritual ibadah saja. Tapi sayangnya kebanyakan orang berburuk sangka pada islam. Mereka menganggap bahwasanya islam tidak memiliki konsep politik, ekonomi, sosial bududaya, dan ideologi lainnya. Hal yang mendasar dari itu semua karena pemahaman akan islam yang setengah-setengah atau tidak kaffah.
Bukankan islam agama yang sempurna? Bukankah pula islam mengatur har-hal yang sifatnya kecil hingga besar?

Oleh karenanya kita perlu paham. Bahwasanya dakwah islam itu harus menyeluruh pada seluruh sektor kehidupan, karena ini adalah sunnatulluh (seluruh yang ada di langit dan bumi tunduk pada hukum-hukum Allah). Dakwah yang menyeluruh (syamil) akan terwujud apabila di dukung oleh orang-orang yang memasuki islam secara menyeluruh pula.

Namun kini ada sebagian kelompok yang sangat menekankan pada aspek akhlaqiyah bersamaan dengan itu meniadakan aspek aqliyah, jasadiyah serta usaha ke arah pembentukan masyarakat islami. Sebagian kelompok mengutamakan segi aqliyah dengan mengabaikan aspek lainnya. Selain itu masih lagi ada kelompok yang sangat antusias untuk mendirikan Khilafah Islamiyah tetapi menafikan aspek lainnya. Ketiga jenis kelompok di atas tadi tidak menggabarkan metode dakwah yang syamil (menyeluruh) tetapi mencerminkan sifat parsial (juz’iyah). Dakwah yang parsial sangat mudah di gebug thagut. Dia tidak memiliki kekuatan berarti dimata perusak bumi. Sebaliknya mereka dianggap lunak dan mudah diadu domba satu sama lain. Untuk diketahui, da’wah seperti inilah yang diinginkan thagut. Sebaliknya, dakwah yang syamil adalah dakwah yang akan mengawal gerakan islam. Gerakan islam yang dimaksud adalah gerakan islam yang berlaku disetiap negara, walau setiap negara memiliki ciri persoalan yang berbeda dengan yang lainnya.

Untuk mewujudkan peradabaan islami yang menjadi harapan muslim pada umumnya. Dalam hal ini maka setiap muslim diminta konstribusinya di dalam memainkan perannya dalam membangun peradaban islam. Proyek raksasa ini tidak mungkin mencapai sasaran jika dilaksanakan secara individual, tetapi ia harus berjalan secar kolektif (Amal jama’i). Untuk itu diperlukan pemahaman islam yang menyeleruh.

Melihat pentingnya rekayasa tersebut, saya jadi teringat ungkapan Al-Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah menjelaskan tentang Karakteristik dakwah sebagai berikut: “Garis perjuangan berfase-fase (bertahap)…. memakan waktu lama… tidak tegesa-gesa memperoleh hasil…. dan setiap persoalan telah ada ketentuan (dari-Nya)”.


Jika sistem atau metodolgi dakwah ini dapat kita terapkan dengan baik, insya Allah masa depan islam akan lebih baik dari pada hari ini. Dan akan segera terwujud peradaban modern yang akan dikenadalikan Islam. Dan Lahirlah khilafah Islamiyah bukan lagi sekedar wacana. Insya Allah..
Saatnya semua muslim bersatu. Allahu Akbar!
Hamasah,
KEEP ISTIQOMAH.
Ramadhan Azis
Kader KAMMI Komisariat Madani


Sumber : http://kammimadani.wordpress.com/2012/09/18/tidak-parsial-tapi-syamil-islam-dan-dakwah/

KAMMI Ponorogo Launching Program “Kaca”

PONORGO - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Ponorogo mengadakan launching program KACA (KAMMI Cinta Al-Qur’an), Minggu (16/9) bertempat di Masjid Al-Mubarok, kegiatan ini menghadirkan sekitar 32 Peserta yang terdiri dari mahasiswa STAIN, UNMUH, STKIP dan INSURI Ponorogo.

Program KACA merupakan bentuk kerjasama KAMMI bersama “UMMI Foundation” untuk tahsin Al-Qur’an.

Koordinator UMMI Ponorogo, Ust Muhammad Wahyudi menyatakan  sangat senang dan memberikan apresiasi positif terhadap program KAMMI Ponorogo.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menyampaikan bahwa program di UMMI Foundation akan memberikan servis kepada peserta bukan sekedar bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai tajwid, tetapi lebih dari itu yakni diharapkan peserta mampu menjadi seorang pengajar UMMI.

“Saat ini Ponorogo sedang krisis pengajar Al-Qur’an yang bersertifikat. Maka dari itu diharapkan peserta dapat menjadi iron stock untuk pengajaran Al-Qur’an,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator program KACA, Azizah menyampaikan bahwa program belajar Al-Qur’an ini Insya Allah tuntas hanya dalam 15 Kali pertemuan sebagaimana program yang ada di “UMMI Foundation”.
Tak lupa, ketua KAMMI  Ponorogo Akh Sugeng Widodo dalam sambutannya sangat mengharapkan agar peserta sungguh-sungguh dan semoga bisa istiqomah

KAMMI Aceh Tolak Anggota Komnas HAM Gay

SUARAACEH.COMBanda Aceh, Lagi-lagi isu gay kembali menghangat di Indonesia. Kali ini adalah terkait dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang telah berakhir masa tugasnya pada agustus yang lalu dan mulai dilaksanakannya seleksi calon anggota komisi yang baru untuk periode 2012-2017.

Adalah Dede Oetama seorang pendiri GAYa Nusantara yang merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengangkat isu-isu feminis dan selalu meyuarakan kebebasan berekspresi tanpa batas termasuklah diantaranya pengarustamaan dalam hal perkawinan sesama jenis (kawin sesama jenis) yang merupakan salah satu tabiat kaum ‘Ad pada masa Nabiyullah Luth As.

Terkait dengan hal tersebut, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Wilayah Aceh menyatakan sikap menolak tegas hadirnya anggota Komnas HAM dari kalangan aktivis gay karena melanggar Undang-undang dimana Indonesia adalah Negara yang memiliki undang-undang tentang perkawinan dan menolak Gay. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum KAMMI Aceh, Faisal Qasim, SH kepada Suara Aceh, (Rabu, 12/9/2012).

Indonesia sebagai sebuah negara Hukum seharusnya segala sesuatunya berlandaskan kepada hukum-hukum dasar Negara yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam undang-undang jelas dicantumkan dalam pasal 29 bahwa perkawinan adalah sebuah ikatan suci antara seorang laki-laki dan perempuan. Dan juga setiap agama-agama yang dilegalkan di indonesia semua tidak mentolerir adanya perkawinan sesama jenis, kata Faisal.

Faisal juga juga mengungkapkan, bahwa pihaknya mengeluarkan sikap sebagai berikut:

1. Menolak Calon Anggota Komnas HAM yang melanggar peraturan Perudang-Undangan, Merusak Moral dan melanggar norma-norma Agama;

2. Menolak Gay dan Kaum Transgender lainnya untuk masuk ke Lembaga Negara sekelas Komnas HAM; Hal ini akan melecehkan kewibawaan Negara, karena kaum Transgender tidak di akui dalam Undang-Undang Indonesia;

3. Mendesak Komisi III DPR RI untuk tidak meloloskan Calon Anggota Komnas HAM yang tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan;

4. Mengajak Seluruh Masyarakat Aceh dan Indonesia untuk bersama-bersama menolak setiap kebijakan yang berpotensi merusak Moral dan Aqidah Ummat dan Masyarakat Indonesia. (TZ)

Sumber :  http://kammi.or.id/kammi-aceh-tolak-anggota-komnas-ham-gay/

KAMMI KEPRI Hadirkan Majalah Elektronik

Batam - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kepri menghadirkan majalah elektronik bernama Satu Tekad untuk seluruh mahasiswa di kepulauan Riau. Majalah ini disusun oleh tim humas dan media PD KAMMI kepri yang diketuai oleh Puri Suryani. Ia mengatakan inisiatif membuat majalah elektronik ini dikarenakan mengingat internet di saat ini telah menjadi kebutuhan tersendiri bagi setiap pihak.

“saat ini internet telah menjadi kebutuhan banyak orang, termasuk mahasiswa. Apalagi dengan adanya jejaring sosial. Oleh karena itu kami berinisiatif untuk membuat majalah elektronik yang dapat memberikan informasi-informasi terkait dunia kemahasiswaan,” ujar Puri.

Majalah elektronik ini direncanakan akan terbit setiap sebulan sekali. Di edisi perdananya majalah bernama satu tekad ini mengangkat tema selamat datang mahasiswa. Menurut puri, tema ini sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini.

“sekarang ini kan sedang masa penerimaan mahasiswa baru, jadi kami sengaja memilih tema yang berkaitan dengan mahasiswa baru pada edisi perdana ini. Di dalamnya dibahas topik menjadikan kuliah tidak sekedar status, tips beradaptasi di lingkungan kampus, tips menjaga kesehatan saat ospek dan topik lainnya yang sangat menarik untuk disimak,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua umum PD KAMMI Kepri, Raja Dachroni berharap Majalah ini mampu diterima oleh seluruh pihak dan menjadi salah satu sarana sarana bagi seluruh mahasiswa di Kepri untuk menyalurkan aspirasi.

“Majalah ini merupakan media aspirasi mahasiswa di Kepri dan kampus. Ini juga merupakan bentuk kontribusi KAMMI kepada para mahasiswa dan provinsi Kepri,”harap mantan Ketua BEM STISIPOL Raja Haji ini.

Sumber : http://kammi.or.id/kammi-kepri-hadirkan-majalah-elektronik-satu-tekad/

KAMMI Menolak Intervensi AS

Kedatangan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton ke Indonesia sejak (3/9) telah menimbulkan reaksi dari berbagai macam pihak. Salah satu kecaman datang dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.

“Kedatangan Hillary ketiga kalinya di Indonesia merupakan upaya untuk menancapkan dominasi AS di Indonesia. Sebab kita tahu penghentian produksi Freeport beberapa waktu lalu mengganggu kepentingan ekonomi AS, “ tegas Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI, Muhammad Ilyas di Jakarta, Selasa (4/9)

Menurut Ilyas, AS tidak menginginkan kasus penghentian Freeport tidak terjadi lagi. Sehingga diperlukan lobi langsung pemerintah AS kepada Indonesia. Agenda ini jelas merupakan intervensi AS terhadap kedaulatan Indonesia khususnya di sektor pertambangan.

“Melihat kondisi itu, KAMMI mendesak pemerintah bersikap tegas kepada Freeport . Sebab selama Indonesia mendapatkan perlakuan tidak adil dengan pemberian hasil keuntungan sebanyak 1,5%, padahal per tahun Freeport memperoleh 8000 triliun dari hasil mengeruk kekayaan alam bangsa Indonesia, “ tambahnya.

Ilyas meyakini, sumber daya manusia berkualitas dan mampu mengelola tambang di Papua.
“Anak Indonesia pasti mampu mengelola kekayaan alam yang ada di Papua. Intervensi asing khususnya AS di Papua harus dihentikan secepatnya, “ desaknya.

Dirinya juga meminta pemerintah melakukan renegoisasi ulang agar bagi hasil dengan Indonesia menjadi lebih adil. Selain itu, pihaknya juga menolak perluasan Kedutaan Besar AS di Indonesia sebab akan semakin memperkuat dominasi dan melanggengkan intervensi AS kepada Indonesia.

http://kammi.or.id/kammi-menolak-intervensi-as/

KAMMI: Dengan Media Alternatif, Kita Bisa Melawan

Perkembangan industri media massa tanah air sekarang dilanda dua arus besar. Pertama, media mainstream yaitu media yang sudah eksis dan mendarah daging di masyarakat luas. Kedua, media alternatif yaitu jaringan media sosial dan media yang melibatkan dibentuk masyarakat sebagai penyeimbang opini media massa secara umum.

“Dalam praktek lapangan, media mainstream belakangan sangat berbahaya sebab banyak membentuk opini masyarakat. Opini yang terbentuk belum tentu benar karena banyak media mainstream membawa kepentingan baik politik maupun industri pemiliknya, ” ujar eks jurnalis faktapos Ismawan dalam diskusi ” Media Alternatif: Solusi Mencerdaskan Masyarakat” di  Sekretariat PP KAMMI, Matraman, Jakarta Timur, Senin (3/9)

Dirinya menilai, media mainstream cenderung mengabaikan pemberitaan yang berimbang dan menguntungkan kepentingan kelompok tertentu. Akibatnya masyarakat “dibutakan” arus informasi sepihak yang merugikan mereka.

“Setiap hari ada ribuan informasi masuk ke kantor media massa mainstream yang umumnya di Jakarta. Dari sekian banyak, hanya sedikit yang diberitakan dan itu sudah melalui seleksi ketat berbentuk potongan berita, ” tambahnya.

Untuk itu, dirinya mendesak KAMMI dan gerakan mahasiswa lainnya untuk menciptakan media alternatif seperti memanfaatkan rekayasa twitter, facebook dan blog sebagai ajang perlawanan dan perimbangan informasi.

“Jika kita ingin mencerdaskan masyarakat dengan informasi yang benar, bisa dipercaya, dan tidak membodohi masyarakat, maka kita bisa mulai bergerak melalui media alternatif baik secara individu maupun kelompok, ” pungkasnya.

Jika itu gagal dilakukan, maka bahaya “tsunami informasi” akan mengalir deras dan sulit dibendung. Ketika itu terjadi, masyarakat akan mengalami kebekuan pola pikir kritis dan cenderung pasif. (is)

http://kammi.or.id/kammi-dengan-media-alternatif-kita-bisa-melawan/

KAMMI Garut Siapkan Pemimpin Jawa Barat Bermartabat

GARUT – KAMMI Daerah Garut sukses melahirkan para pemimpin muda masa depan usai Pelatihan Kepemimpinan II yang dilaksanakan Kamis-Ahad (30 Agustus-2 September 2012). Acara ini diselenggarakan di Arboretum, Kamojang, Garut dan melibatkan 26 peserta.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari daerah Garut. Sebab KAMMI Daerah Jakarta, Purwokerto dan Semarang ikut mengirimkan delegasinya dalam agenda tersebut.

Tema besar yang diusung KAMMI Daerah Garut yakni “Mempertegas Jati Diri Muslim Negarawan dalam Bingkai Kebhinekaan menuju Jabar Bermartabat”.

Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang dibentuk di Indonesia. Daerah ini memiliki potensi melimpah di dalamnya yang membutuhkan pengelolaan manusia cerdas. Cerdas tidak hanya dimaknai secara konteks akademik namun juga dalam pemahaman realita sosialnya.

“Karakter Muslim Negarawan yang menjadi gagasan mendasar KAMMI ini yang selayaknya termanifestasikan dalam pergerakan membangun daerah, baik dalam levelitasJawa Barat maupun daerah lain,” ungkap Rahmat Laba, ketua KAMMI Daerah Garut di Garut, Ahad (02/8)

Penulis: Sofistika
Editor: Inggar

Sumber : http://kammi.or.id/kammi-garut-siapkan-pemimpin-jawa-barat-bermartabat/

KAMMI Diminta Membumikan Tradisi Ilmiah

Sumbawa - Menjamurnya gerakan organisasi kemahasiswaan merupakan  bentuk bebasnya gerakan dari tekanan dan intimidasi rezim Suharto pada Orde Baru. Sebab ketika Soeharto berkuasa,  aktifitas kemahasiswaan terlumpuhkan, dikekang dan mengalami kemandulan.
“Landasan kekuatan berpikir sebagai sebuah landasan utama adalah dengan menemukan dan mengembangan jati diri mahasiswa. Sebab  itu, gerakan mahasiswa sebagai cermin kemajuan bangsa sudah waktnya tidak lagi mengandalkan kekuatan fisik semata, seperti yang disaksikan dibeberapa media pemberitaan. Sudah seharusnya, mahasiswa menggunkan otak bukan fisik” ungkap Fahri Hamzah saat Deklarasi KAMMI Sumbawa di Sumbawa, Sabtu (28/07).
Mantan ketua umum pertama KAMMI menegaskan, seluruh aktivis KAMMI seharusnya berbicara dengan landasan konsep yang kuat. Dirinya juga meminta kader KAMMI membumikan tradisi-tradisi ilmiah dengan keilmuan yang memadai.
“Kader KAMMI juga harus mampu menjadi komunikator yang handal di tengah-tengah kemajuan tekhologi informasi dan komunikasi sehingga  tidak ditunggangi oleh media” tambahnya.
Sementara ketua umum KAMMI NTB, Ahmad Dahlan mengatakan deklarasi ini merupakan upaya perluasan dakwah KAMMI di NTB khususnya untuk mencetak tokoh perubahan yang bermoral dan berakhlak.
Agenda dekalarasi dihadiri perwakilan BUPATI Sumbawa, Kapolres Sumbawa, anggota DPRD Sumbawa dan OKP lainnya
Dengan penuh semangat, Ubaidillah yang dipercaya sebagai ketua Umum KAMMI Sumbawa berjanji akan menghidupkan gerkan dakwah KAMMI di Sumabawa, tandasnya dengan nada yang tegas. (zein)
editor: Inggar
sumber : http://kammi.or.id/kammi-diminta-membumikan-tradisi-ilmiah/

KAMMI Ponorogo Launching Program “Kaca”

PONORGO - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Ponorogo mengadakan launching program KACA (KAMMI Cinta Al-Qur’an), Minggu (16/9) bertempat di Masjid Al-Mubarok, kegiatan ini menghadirkan sekitar 32 Peserta yang terdiri dari mahasiswa STAIN, UNMUH, STKIP dan INSURI Ponorogo.
 
Program KACA merupakan bentuk kerjasama KAMMI bersama “UMMI Foundation” untuk tahsin Al-Qur’an.

Koordinator UMMI Ponorogo, Ust Muhammad Wahyudi menyatakan  sangat senang dan memberikan apresiasi positif terhadap program KAMMI Ponorogo.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menyampaikan bahwa program di UMMI Foundation akan memberikan servis kepada peserta bukan sekedar bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai tajwid, tetapi lebih dari itu yakni diharapkan peserta mampu menjadi seorang pengajar UMMI.
“Saat ini Ponorogo sedang krisis pengajar Al-Qur’an yang bersertifikat. Maka dari itu diharapkan peserta dapat menjadi iron stock untuk pengajaran Al-Qur’an,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator program KACA, Azizah menyampaikan bahwa program belajar Al-Qur’an ini Insya Allah tuntas hanya dalam 15 Kali pertemuan sebagaimana program yang ada di “UMMI Foundation”.

Tak lupa, ketua KAMMI  Ponorogo Akh Sugeng Widodo dalam sambutannya sangat mengharapkan agar peserta sungguh-sungguh dan semoga bisa istiqomah.

Sumber : http://kammi.or.id/kammi-ponorogo-launching-program-kaca/

Gombalisme

A: Kamu punya uang seribu nggak?
B: Punya. Emang kenapa? Buat apa?
A: Aku minta, dong. Kan buat bayar parkir di hatimu.
***
Petikan dialog di atas saya kutip dari tayangan kuis di salah satu stasiun TV swasta Jum’at (7/9).  Awalnya, A selaku MC menanyakan keahlian apa yang dimiliki peserta B. Dengan pede B menjawab bahwa dia ahli dalam menggombal. Sejurus kemudian, A pun meminta B membuktikannya.

Kejadian serupa ternyata tidak hanya dilakukan A. Peserta lain yang juga laki-laki ternyata banyak pula yang mengikuti jejak A. Padahal mereka tak janjian sebelumnya. Mereka mengakui “menggombal” sebagai kelebihan atau keahliannya.

“Gila ya! Nggombal udah dianggap keahlian. Kok nggak ada yang kelebihannya pintar ngaji atau hal yang lebih manfaat lagi, ya?” komentar teman saya.

Mendengar celetukan itu, saya menjadi merasa perlu membahas hal ini. Ya, perlu karena sejauh yang saya pahami memang meggombal itu memiliki dua sisi: positif dan negatif. Jadi, waspadalah! Waspadalah!

Gombalisme; Don’t(s) and Do(s)

Aktifitas “menggombal” semacam itu konon makin naik daun setelah dipopulerkan di satu acara komedi yang rutin ditayangkan stasiun TV swasta di negeri ini. Karena ratingnya yang tinggi, budaya menggombal pun banyak diduplikasi, khususnya di kalangan generasi muda. Ironisnya budaya ini kalau tidak dimanage dengan baik bisa semakin menyuburkan pergaulan bebas. Bukan tidak mungkin bombardir gombalan dari si penggombal ulung membuat si target klepek-klepek jika tak pandai menjaga diri. Artinya, menggombal ini memang rawan malpraktik.

Demi memahami hakikat menggombal, maka ada baiknya kita mengkajinya secara cover both side. Namun, sebelum menuju ke sana makna asal “gombal” atau “menggombal” pun penting tak kalah penting untuk diketahui. KBBI telah mencantumkan definisinya sebagai berikut:

1gom·bal n kain yg sudah tua (sobek-sobek)
2gom·bal n cak bohong; omong kosong: rayuan –;
gom·bal·an n ucapan yg tidak benar, tidak sesuai dng kenyataan; omongan bohong: ~ developer yg berbahaya adalah beredarnya berbagai brosur yg menawarkan kondominium dan perumahan supermewah

(Dikutip dari: KBBI Daring)
Kalau berhenti sampai di sini, maka tentu menggombal bukanlah suatu hal yang terpuji. Ternyata dalam istilah Bahasa Jawa tak jauh beda memandang perkara ini.
Menanggapi definisi dasar dan fenomena yang memang banyak terjadi berkaitan dengan ini, maka saya sepakat kembali mendudukkan perkara ini kepada hakikat dasar. Artinya, memang mau bagaimana pun menggombal itu tetaplah sebuah “omongan sampah” alias tak penting, bahkan cenderung berakibat negatif. Tapi perlu ditekankan sekali lagi, menggombal ini mutlak tidak baik manakala dilakukan oleh dan kepada orang yang tidak berhak. Hal ini terkait permasalahan waktu atau konteks pemakaian maupun hubungan personal orang yang terlibat.
gambar: kautsarbiastafi.blogspot.com
Lalu, adakah menggombal yang dibolehkan? Tentu ada. Mungkin sebagian dari kita pernah membaca keterangan dari Nabi Muhammad SAW berikut:

Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rosululloh SAW bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”. (HR At-Tirmidzi. Derajat hadits: hasan)
Ada beberapa hadits Nabi lain yang senada dengan hadits di atas. Intinya, tidak mengapa kita melebih-lebihkan ucapan kita sehingga tidak sesuai kenyataan (menggombal) dalam konteks tertentu. Dalam hal ini, menggombal di antara pasangan suami-istri demi mempertahankan keharmonisan rumah tangga ternyta dibolehkan dalam Islam. Dan perlu dicatat, bahwa ini tidak bertentangan dengan dalil umum tentang larangan berbohong. Para ulama telah membahas hal ini, salah satunya ialah Ath-Thobari, yang menyatakan:

“Pada asalnya tidak boleh berbohong dalam sesuatupun. Adapun adanya pembolehan untuk berbohong maka maksudnya adalah tauriyah, menggunakan ungkapan-ungkapan (diplomatis), dan tidak terang-terangan berbohong. Misalnya, memuji istrinya, berbuat baik padanya, dan akan memberikan padanya pakaian yang demikan, jika Allah mentaqdirkannya. Walhasil hendaklah menggunakan kalimat-kalimat yang muhtamalah (yang mempunyai beberapa maksud), orang yang diajak bicara akan memahaminya dengan sesuatu yang menentramkan hatinya. Jika berusaha untuk mendamaikan diantara manusia maka menukil dari satu pihak kepada pihak yang lain dengan perkataan yang baik, demikian juga sebaliknya dari pihak yang ini kepada pihak yang lain. Begitu juga dalam perang dengan mengatakan, ‘Pemimpin besar kalian telah mati’, diniatkan untuk pemimpin mereka yang pada zaman terdahulu. Para ulama yang berpendapat demikian menta’wilkan kisah Ibrahim, Yusuf, dan yang semisalnya adalah kalimat-kalimat diplomatis, wallahu a’lam. Adapun berbohongnya suami pada istrinya dan juga sebaliknya maka maksudnya adalah menampakkan kasihsayang, janji yang tidak mengharuskan terlaksana, dan yang seperti itu, adapun tipu muslihat untuk mencegah kewajiban suami atau istri, atau mengakui apa yang tidak dimiliki oleh suami atau istri maka ini adalah haram menurut kesepakatan kaum muslimin.”

Menggomballah pada Waktunya

Sebagai penutup, maka di sini perlu ditegaskan kembali bahwa tak sepatutnya kita selalu mengikuti apa yang kita lihat di layar kaca. Sekalipun hal itu sudah populer di masyarakat umum, jika bertentangan dengan prinsip agama, maka sebaiknya kita tak hanyut dalam arus. “Gombalisasi” yang marak dilakukan kalangan muda demi menggaet si do’i bukanlah suatu perkara yang baik. Selain karena memang belum ada ikatan sah di antara pelaku dan target penggombalan, juga karena tak ada “payung hukum” syar’i yang menganjurkan bahkan membolehkannya. Malahan di balik itu tersimpan potensi cukup besar bagi terciptanya hubungan “ilegal” di mata agama. Sebaliknya, kalau mau menggombal yang tidak dilarang, maka menikah adalah pintu gerbangnya. Namun perlu diingat, menurut penulis, tetaplah lebih baik kita tidak membiasakan diri menggombal terhadap pasangan kita. Toh dalam hadits dikatakan bahwa hal itu masuk kategori “dibolehkan”, bukan “dianjurkan”. Artinya, jika masih ada alternatif selain menggombal, maka itu tetap lebih baik.
 RM, 9 September 2012
Oleh: Nur Afilin (Kadep Humas dan Kajian KAMMI Madani)


sumber : http://kammimadani.wordpress.com/2012/09/09/gombalisme/

Lebih Dekat dengan Konstitusi Agraria

Masih ingatkah bahwa negara kita terkenal dengan sebutan negara agrarisnya? Apa kaitannya dengan konstitusi agraria?

Dikatakan oleh Yance Arizona, SH., MH., dalam kuliah online Jimly Schoolnya (Selasa, 11/9) bahwa konstitusi agraria terkait dengan mempelajari/melihat konstitusi (hukum) dari segi agraria. Pun, dalam hal ini berlaku pula mempelajari hal terkait agraria dari segi konstitusi. Pengertian ini menyiratkan makna keluasan tafsir studi konstitusi, tidak melulu terkait dengan politik semata.

Termaktub dalam undang-undang kita perihal agraria yakni dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945. “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Yance menjelaskan bahwa terdapat dua hal yang menjadi pemaknaan dari pasal terseut. Pertama, tentang objek penguasaan. Bumi, air, dan segala kekayaan di dalam suatu negara merupakan objek yang dikuasai/menjadi hak suatu negara. Kedua, tentang penguasaan itu sendiri. Pasal ini mengatur hubungan penguasaan sumber daya tersebutu yakni terhadap negara dan masyarakat.

Jika menilik pada kenyataan di lapangan, Yance menyitir sangat banyaknya kasus agraria mengemuka. Salah satunya yakni oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). BPN bulan Juli 2011 menyatakan angka 14.337 kasus mencuat tentang sengketa tanah. Dari sekian banyak kasus, terhitung 10% saja yakni 1.300an kasus yang terselesaikan.

Negeri kita tercinta ini telah lama pula mengangkat isu agraria. Tahun 1930 muncul pledoiIndonesia Menggugat oleh Soekarno. Ia mengguncang UU Agraria kolonialisme yang sering mengakibatkan masyarakat pribumi kehilangan tanahnya. Tan Malaka juga di tahun 1926 mengeluarkan buku Menuju Republik Indonesia yang mengandung arahan unsur penguasaan terhadap lahan perkebunan.
Kembali menilik pasal 33 UUD 1945, Yance mengklasifikasikan tentangnya dua hal. Pertama, tiga ayat pertama pasal tersebut (ayat 1-3) masih ada namun nuansanya tidak muncul di lapangan. Kedua, justru dari pasal 33 tersebut, ayat 4lah yang mendominasi. Di dalamnya terdapat kata kunci ‘efisiensi berkeadilan’ dalam penyelenggaraan perekonomian nasional. Indikasi dari frase tersebut dalam mengarah pada pemaknaan bahwa perekonomian yang tidak efisien tidak akan menciptakan keadilan. Begitupun sebaliknya. Hal ini, kembali menurut analisis Yance, merupakan penafsiran yang rawan membahayakan dalam tataran eksekusi di lapangan.

Sedikit membahas tentang perekonomian bangsa, Yance membawa pada analisis tentang nuansa ekonomi tanah air. Dalam dekade sekarang ini, kubu ekonomi liberal menjadi dominan di kehidupan Indonesia. Boediono, Sri Mulyani, dan beberapa yang lain menduduki posisi strategis dalam tata ekonomi tanah air. Gubernur BI menjadi wilayah gerak terdahulu Boediono sebelum kini di kursi RI2. Begitu juga dengan Sri Mulyani yang pernah menjabat menjadi orang nomor wahid dalam keuangan RI. Ini menyebabkan kebijakan yang bergulir dalam perekonomian pun mengikuti nuansa background pengusungnya (ekonomi liberal).

Konstitusi agraria, termasuk di dalamnya mengenai wilayah suatu negara. Selain menjadi ranah internasional negara yang berbatasan, masalah wilayah juga masuk dalam hal keagrariaan. Sebagai contoh, kasus perebutan pulau Indonesia dengan Malaysia atau negara lain. Ini menyangkut soal tanah, wilayah, dan segala sumber daya yang berada di dalamnya. Masalah ini, seyogyanya tidak hanya melibatkan institusi terkait kisruh batas negara saja. Bijaknya, dalam menyelesaikan kasusu perebutan pulau/wilayah ini melibatkan masyarakat yang mendiaminya. Merekalah pihak paling dekat dalam kaitannya dengan kebersediaan menjadi bagian dari negara A atau B.

Masalah lain terkait agraria juga tidak asing di telinga kita. Kasus Mesuji contohnya. Dalam kasus perebutan tanah, pemekaran wilayah, penggunaan tanah masyarakat untuk umum, dll sering mengalami chaos dalam penyelesaiannya antara pemerintah (pusat/daerah) dengan masyarakat. Bukan hanya permasalahn tumpulnya taring konstitusi yang mengatur, tapi juga ketidakberesan penyelesaian masalah ini terkait kurang cakapnya oknum. Sekali lagi, Yance menekankan perlunya pendekatan dan pelibatan masyarakat langsung dalam hal penyelesaian kasus serupa dalam kaitannya dengan agraria.

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra (Kadep Pemberdayaan Perempuan KAMMI Madani)

Sumber : http://kammimadani.wordpress.com/2012/09/13/lebih-dekat-dengan-konstitusi-agraria/

Sindir Pejabat, KAMMI Semarang Bagikan Kurma

Semarang (17/7) — Dalam rangka menyambut Ramadhan, KAMMI Semarang mengadakan aksi simpatik membagikan kurma dan Jadwal Imsakiyah. Mereka memberikan “hadiah” itu kepada Anggota Dewan dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.

Aksi pembagian jadwal Imsakiyah dan kurma untuk anggota dewan merupakan sindiran halus kepada pejabat ditingkat Pemkot dan DPRD Kota agar lebih meningkatkan kinerjanya sebagai anggota dewan dan wakil rakyat.

“Semoga Ramadhan ini menjadi momentum penyadaran para wakil rakyat. Mereka diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan memberikan prestasi terbaik kepada masyarakat Semarang. Sebab masyarakat sudah memilihnya sebagai wakil rakyat ” ujar Ketua PD KAMMI Semarang Galih Pramilu di Semarang, Selasa (17/7)

Menurutnya Selama ini kinerja wakil rakyat masih dianggap biasa saja. Belum ada sesuatu yang bisa dikatakan prestasi. Bahkan beberapa kasus menjerat anggota Dewan dan pejabat Pemkot Semarang.
“Momentum Ramadhan ini semoga menjadi momentum introspeksi para wakil rakyat” tegasnya.

Aksi ini diikuti seluruh Kader KAMMI Semarang dan merupakan rangkaian agenda Ramadhan KAMMI Semarang yang mengangkat tema  ‘Ramadhan untuk Semua’.

Dalam kesempatan itu, aksi sempat diwarnai adu argumen anggota Dewan dari Fraksi PDI Perjuangan dengan beberapa aktivis KAMMI. Mereka (anggota DPRD-ed) beralasan aksi ini dilakukan secara mendadak. (Panji)

KAMMI Purwakarta Bersatu Bantu Muslim Rohingya

Islampos.com—BELUM satu pekan lamanya, KAMMI Purwakarta beserta aliansi Mahasiswa Purwakarta, menuntut sikap tegas dan peran aktif pemerintah untuk menghentikan aksi perampasan hak kaum Rohingya di Myanmar. Pada hari Selasa (14/8), KAMMI Purwakarta beserta HMI, PERMATA, PMII, FR, FMI, BEM, Organisasi Masyarakat, beserta aliansi Mahasiswa Purwakarta lainnya melakukan aksi solidaritas yaitu penggalangan dana dan seraya berdo’a bersama untuk saudara muslim yang tengah menderita di Myanmar. Menurut KAMMI Purwakarta, aksi solidaritas ini merupakan bentuk langkah nyata dan kepedulian bahwa KAMMI Purwakarta dan semua elemen yang lain benar-benar merasakan kepedihan yang melanda saudara muslim Rohingya di Myanmar.

“KAMMI Purwakarta mengajak semua elemen masyarakat Purwakarta khususnya untuk ambil bagian dalam aksi ini berdo’a dan menyisihkan sebagian rizkinya untuk saudara muslim etnis Rohingya di Myanmar. Karena memang bantuan moril maupun materil sangat dibutuhkannya.

Sekecil apapun peran kita, itu merupakan bentuk kepedulian yang luar biasa. Dan sekecil apapun perjuangan kita itu merupakan sebuah usaha untuk menyelamatkan kaum Rohingya dari rezim pemerintahan Myanmar, sesungguhnya Allah Maha Tahu sekecil apapun hal yang hamba-Nya perbuat,” ujar Ade Syarifudin, selaku sekretaris umum KAMMI Purwakarta.

Aliansi Mahasiswa Purwakarta berharap bahwa semua elemen baik pemerintah, masyarakat, mahasiswa dan yang lain turut ambil bagian dalam musibah yang menimpa etnis Muslim Rohingya di Myanmar. “Setidaknya, kita dapat meluangkan waktu sejenak di sela-sela aktivitas kesaharian untuk memanjatkan doa, agar penderitaan umat Muslim Rohingya segera berakhir, dan Allah senantiasa memberikan jalan keluar yang terbaik untuk mereka,” tambah Ade. [sm/islampos]

Source
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Info KAMMI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger